Isnin, April 11, 2011

Sasterawan ulung: Pramoedya Ananta Toer (Pak Pram).

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah seorang pengarang yang produktif dalam sejarah sastera Indonesia.

Beliau telah menghasilkan lebih daripada 50 buah karya (novel sejarah, semi-autobiografi, cerpen, esei, dan sebagainya) dan diterjemahkan ke dalam lebih daripada 41 bahasa asing. Beberapa karya utamanya, antara lain Cerita dari Blora (1952), Kuartet/Serial Pulau Buru (1980 - 1988), Gadis Pantai (1982), dan Arok Dedes (1999).

Nama asal Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerpen semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Kerana nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, beliau menghilangkan awalan Jawa “Mas” daripada nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya.

Pada 1960-an, beliau ditahan oleh kerajaan pimpinan Soeharto kerana “pandangan pro-Komunis Tiongkoknya”. Bukunya dilarang pengedarannya, dan beliau ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun sewaktu zaman penjajahan dan setahun sewaktu Orde Lama, sepanjang Orde Baru, Pramoedya telah 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.

Antara karya agung beliau ialah novel Keluarga Gerilya yang diterbitkan pada tahun 1950 sejurus selepas beliau dibebaskan dari Penjara Bukit Duri, Jakarta oleh Belanda.

Dalam dunia sastera antarabangsa, sasterawan Indonesia ini dijuluki “Albert Camus Indonesia”. Menurut Los Angeles Time, beliau termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca. Kedudukan beliau sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht.

Akibat penyakit radang paru-paru yang dihidapinya semakin kronik dan disertai komplikasi penyakit jantung dan diabetes, Pram akhirnya menutup lembaran kisah hidupnya pada hari Minggu tanggal 30 April 2006. Jenazahnya dimakamkan di permakaman Umum Karet Bivak Jakarta Pusat. Selamat Jalan Pak Pram.

Antara senarai anugerah dan pencapaian Pak Pram :-
• Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988;
• Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989;
• Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people”, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995;
• Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995;
• UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence” dari UNESCO, Perancis, 1996;
• Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999;
• Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary achievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding”, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999;
• Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999;
• New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000;
• Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepun, 2000;
• The Norwegian Authors Union, 2004;
• Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004 dan banyak lagi.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...